Saatnya Melompat Lebih Tinggi

mendapatkan tulisan ini
🙂

Ruang Sunyi

Image
Hidup itu, kalau kata pemancing ikan salmon, seperti menapakkan kaki di atas aliran sungai yang deras untuk menunggu kailmu ditarik oleh salmon yang kau nantikan. Jika kau salah menempatkan kakimu, jika pijakannya kurang kokoh di sana, niscaya kau akan terpeleset dan terseret oleh arus deras yang tak dapat kau lawan. Kemudian alirannya membawamu ke arus yang lebih deras dan dalam. 

Begitulah. Kita harus punya falsafah hidup yang jelas. Harus segera diputuskan, mau seperti apakah kita memandang dan menjalani hidup ini. Kemudian ia akan menjadi keyakinan yang mendarah daging, mengotak hati, men-tulang otot. Sehingga langkah semakin tegap. Arahnya semakin jelas. Pijakan dan sandarannya semakin kuat. 

“Kalau Hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau Kerja sekadar kerja, kera juga bekerja”, kata Buya Hamka. Hidup harus punya visi besar, mimpi besar. Yang mimpinya tak jauh dari sekadar apa yang masuk ke dalam perutnya, nilainya tak lebih dari sekadar apa yang keluar…

View original post 443 more words

Advertisements

Surat untuk Adik: Buku dan Teman

terhentak membaca ini
lalu ingat dengan adek perempuanku yang yang ke-3 akan milad pada 1 januari nanti dan juga adek perempuan ke-4 yanh masuk kampus tahun ini serta adek laki-laki ke-5 yang masih sma
saya ingin menulis untuk kalian
Aminnn
🙂

Finding Ourselves (4)

terhentak membaca ini…
salam hormatku kawan..
🙂

MERAPIKAN KENANGAN

………..

Tahun ini adalah tahun yang sangat seru—ini adalah bahasa positif dari ‘berat’—buat saya, ketika saya dihadapkan pada keputusan-keputusan besar dalam hidup. Saya banyak bertemu dengan hal-hal yang benar-benar baru dan mengejutkan, saya merasakan berbagai tekanan, juga ‘dipaksa berpisah’ dengan orang-orang terdekat. Yah, semua terasa berat. Hal positif dari ini semua adalah, berbagai tekanan ini mendorong semua potensi saya untuk keluar, saya menjadi begitu jujur dengan diri sendiri dan berusaha tampil apa adanya di depan banyak orang. Saya menjadi merasa begitu bodoh karena itu saya kembali banyak belajar dengan bertemu orang dan membaca buku. Dan syukurnya, saya tetap bisa menulis dan bisa menjalani semuanya dengan gembira.

Saya bertemu orang.

Camera 360

Hal paling berharga yang bisa saya petik dari bertemu (dalam hal ini berbincang/mendengarkan cerita) orang adalah sebuah kesadaran bahwa orang-orang yang kita anggap hebat itu sebenarnya adalah orang biasa juga—sama seperti kita—tapi melakukan hal-hal yang tidak biasa. Atau setidaknya, banyak bertemu…

View original post 597 more words

Merajuk pada-Mu, “Menyapa terang dalam balutan gelapmu Malam”

ImageBerteman dengan rasa takut adalah sebuah kecemasan tertinggi dalam hidupku, rasa yang terkadang secara spontan terbahasakan lewat mimik wajah dan perubahan drastis pada tingkah lakuku. pada malam yang ditemani oleh cahaya bulan yang secara gratis kunikmati ketika menegadahkan mata keatas melihat gelap dan segumpal cahaya yang jauh di atas sana sehingga tidak menyakiti mataku, cahaya dari lampu mobil yang seketika berada di depanku terkadang memerintahkan tanganku secepat kilat untuk menutup mataku. ahhh untunglah ketika menatap sinar bulan hal tersebut tak menjadi sebuah perintah untuk menutup mata.

untuk setiap malam yang telah kulewati dengan beragam rasa dalam hidupku dan masih setia menjadi teman yang tak bertanya dan meminta jawaban, untuk setiap malam yang menjadi teman untuk melewati rasa yang terkadang tak bisa kuterjemahkan lewat kata-kata, untuk setiap malam yang menjadi simbol gelap dan ketakutan pada setiap mata yang tal bisa bisa berkompromi dengan rasa takut, untuk setiap malam yang tak pernah lelah menjadi teman. ahh malam ini ada sebuah doa yang kupanjatkan untuk sang pemilik malam dari hati kecilku yang sedang tak tentu arahnya, aku mohon pada-Mu untuk masih memberi kesempatan kepada adek kecilku yang kini berada pada angka 23 tahun dan sedang terbaring di rumah sakit umum Dara Polewali Mandar agar masih memiliki semangat untuk kembali menjalankan tiap impian dan cita-citanya. merajuk yang tersimbol dalam sebuah doa adalah hal tertinggi yang bisa kulakukan malam ini untuknya karena ruang dan waktu menjadi penghalang untuk berada di sampingnya, memegang tangannya, membelai rambutnya, melihat matanya menunggu perintah darinya ketika dia merajuk kesakitan. maaf untuk semua kata kasar gerakan tangan yang telah menyakitimu hanya karena kita bertentangan dalam menanggapi persoalan hidup. dan sekali lagi setiap moment besar datang menghampiri maka air mata, salaman, cium pipi kiri-kanan setelah itu berpelukan. gerakan sepert itu selalu menjadi simbol kita saling memaafkan. tanpa kata kitapun menjawab setiap kesalahan yang telah kita lewati.

 

 

“aku takut pada suatu hari teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi yang idiot”

-Albert Einstein-

celoteh sederhanaku…. dua variabel yang menjadi titik awal dari sebuah cerminan budaya… terlintas dalam fikiran saya bahwa teknologi adalah sebuah ide yang di ciptakan oleh yang  namax manusia dan tentu si manusia jauh lebih unggul kan daripada alat tersebut.. nach yang menjadi sebuah pemikiran ternyata alat tersebut kembali menjadi sebuah candu yang kadang mengambil sebagian besar waktu si manusia untuk menjalankan kewajibanx selayaknya… ini sebuah realitas yg berada di depan mata dan saya tidak bisa menghadapinya sendiri melawanpun kadang hanya tinggal dalam hati dan menjadi kadang menjadi sebuah pemikiran akan penjajahan yang terkesan “cantik” & “seksi” sehingga spontan kita pun tertarik untuk bercengkrama dengan si teknologi yg awalx adalah sebuah ide yang tersaji di hadapan kita sebagai alat yang mencuri sebagian besar waktu kita.

21.11.13

makassar

00.39

Sebuah Perjalanan yang jauh dari Rumah

“Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya
impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : melipur duka dan
memulai penghidupan baru, memperkaya budi pekerti, pergaulan yang terpuji,
serta meluasakan ilmu” – Imam Syafii

berharap waktu tiga bulan yang kau tempuh di kota daeng memberikan ruang di hatimu untuk merasakan realitas yang di tonton oleh matamu. ini adalah tentang belajar yang tidak hanya kau lakukan di rumah dan di sekolah tapi belajar bahwa di luar rumah masih ada mereka yang berjuang untuk mempertahankan hidupnya dengan berbagai cara yang kadang membuatmu terheran-heran. masih ingat tidak di atas pete-pete yang berhenti di di jalan tol ada seorang anak kecil yang meminta uang lalu di wajahmu muncul bahasa heran dan kaupun berkata “nda mau ka lagi ke makassar banyak sekali peminta-pemintanya”, hahahaha saya pun tersenyum mendengar peryataan spontanmu yang masih kelas 6 sd. itu adalah salah satu realitas yang kau dapatkan di luar rumah dan tentu masih banyak realitas lainnya yang tentu telah kau lihat dengan matamu. sekali sejauh apapun kau melangkah meninggalkan rumah maka teruslah belajar dari setiap yang kau lihat

sebuah apresiasi untuk adek lelaki kecilku faizal yang kini telah bertumbuh menjadi anak laki-laki  yang secara fisik tinggi badannya telah mengalahkanku. mencoba mengingat kembali balon yang di pegangnya dengan tubuh kecil yang hanya memakai celana dalam 19 tahun yang lalu dan selalu berlari keluar rumah ketika mas penjual es potong menghampiri lorong rumah kami dengan bunyi khas penjual es. setiap pulang sekolah maka penjual es adalah sosok yang sangat kami nantikan untuk menjawab dahaga akan panasnya siang. hahahaha

ini kali pertamanya faizal berada jauh dari rumah dalam jangka waktu tiga bulan karena memilih psg (pendidikan sistem ganda) di Makassar tepatnya di Mall Panakukang yang sesuai dengan program jurusan pemasaran yang di pilihnya sebagai langkah untuk belajar di SMKN 1 Polewali Mandar, Sulawesi barat. terkesan manja dan selalu berada di zona nyamannya membuatnya kaget dengan realitasnya yang dia dapati di kota daeng ini, bagaimana hari pertama saya menemaninya ke MP dari pete-pete btp kamipun menyambung dengan pete-pete 07 hingga depan gerbang pengayoman lalu memilih jalan kaki, nach di sinilah saya bisa membahasakan ketidaknyamanan adeku ini, dengan langkah tanpa suara dan mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya dari matahari pagi yang mulai menyengat. di rumah sana bapak tak pernah mengekang keinginanmu untuk memiliki sebuah gitar dan sebuah motor yang menemani perjalanan hidupmu. saya pun mengingat kembali ketika dia masih kelas 6 sd pernah datang mengunjungiku pada tahun 2007 ketika status mahasiswa masih melekat padaku, sayapun menyambut dengan gembira kedatangan faizal yang di antar oleh rum, mereka berdua turun tepat depan ramsis putri. berharap jauh dari rumah adalah proses belajarmu memahami bahwa kau anak laki-laki yang harus menerima realitas kehidupan bahwa semua yg kau ingini tak selama kau dapatkan. 

di fatuquero kami berlima Muhammad Rum, Fatma Muin, Marlina Muin, Faizal Rizal Muin menikmati masa kecil dengan segala peraturan ketat dari bapak, mulai dari jadwal tidur siang yang ketat, jam bangun tidur, jam belajar di rumah yang selalu menjadi momok bagiku karena setiap habis magrib merupakan jadwal untuk berhadapan dengan bapak dan akan muncul beberapa pertanyaan tentang apa saja yang terjadi di sekolah mulai dari mata pelajaran matematika yang menjadi ujian berat karena ini pelajaran yang tidak saya sukai dan karenanyalah saya akan mendapatkan garis merah di betis saya akibat ikat pinggang yang di layangkan oleh bapak. rum selalu menjadi yang terbaik ketika perkalian di ujikan pada kami berdua, dan ketika pelajaran bahasa indonesia maka saya selalu menjadi yang di unggulkan. hahaha. rum lahir setelah saya berumur setahun dan uniknya tanggal lahir dan bulan kami sama, 30 januari 1988 dan saya 30 januari 1987. dewasa telah menjadi pilihan hidupnya untuk menjawab waktu yang tak pernah memberi ruang tunggu. saya harus jujur bahwa saya sangat mengagumi saudara lelakiku ini walaupun celah kekurangan tak pernah luput dari bangsa manusia, 

berangkat dari sebuah perjalanan yang akan kita cintai karena beberapa alasan yang menjadi sebuah pilihan untuk belajar.  entah perjalanan tersebut di maknai sebagai proses yang di sebut dengan “merantau” oleh imam syafii. tapi saya meyakini bahwa sebuah perjalanan adalah sebuah proses yang mengenalkan seseorang akan sebuah pilihan bahwa tidak selamanya kau akan tinggal di rumah dengan segala kenyamananya, bahwa hidup itu tidak hanya tentang apa yang sudah kau dapat dalam rumah. tapi apa yang kau dapat dalam rumah adalah sebuah pondasi kuat yang akan menjagamu di luar rumah.

 

sebenarnya hal yang paling nyesak dalam setiap perjalanan adalah ketika pamit pada kedua orang tua, mencium tangan mereka lalu berbalik menuju kendaraan yang akan membawamu pergi dari pandangan mereka matapun basah walaupun keinginan untuk menahannya. sebuah perjalanan pada akhirnya akan melahirkan kerinduan yang tergambarkan lewat air mata bahagia, mendoakan mereka dalam setiap sujud, berharap mereka sehat dalam tiap aktivitas mereka. jauh dari rumah merupakan jarak kerinduan yang membuatmu sadar rumah akan tetap menjadi tempat menumpahkan kerinduan dengan segala macam bahasa tubuh.

 

“cukup anak lelaki saja yang akhirnya harus meninggalkan kenyamanan di rumahnya jauh dari pandangan orangtuanya dan anak perempuan jangan jauh dari rumah karena rentan dengan berbagai ancaman di luar rumah yang senantiasa mengintai”

kurang lebih kalimat seperti itu sering saya dengar ketika anak perempuan entah mereka adalah orang saya kenal dan akrab dengan mereka. mungkin akan ada beberapa alasan yang akan menjawab perihal anak perempuan tersebut tapi saya tidak akan membahasnya di sini.

 

 

 

 

 

EDISI TANDA TANGAN & VERBA VOLANT SCRIPTA MANENT

Image

30.10.13

“iya,, harus terus belajar.. ada tulisanku yg pernah sy buat d Ambon,, mengenai belajar,, setelah bnyaknya cobaan n kejadian2 yg sy alami waktu itu.. dan benar bahwa hidup ini ada tuk belajar,, yg penerimaan raportnya nnti d Padang Mahsyar kelak.. semoga bisa menjadi lebih baik lg  dan lgi,, meski tuk jd pribadi yg baik butuh waktu yg lama.. tpi semoga terus ada keinginan tuk memperbaiki diri”

*ini adalah sms yang tidak saya sortir sesuai dengan apa isi smsnya yang masuk di inboxku dari salah seorang kawan yang saya labeli dengan status sahabat.

mengingat kembali sebuah nama “Nur Amaliah Mardianty Wasahua” yang saat ini berada di ibu kota negara Indonesia sedang memperjuangkan mimpi dan harapannya, seorang kawan yang begitu menjunjung tinggi dan menghargai sebuah ikatan pertemanan, dara kelahiran ambon 9 maret 1987 yang  menghabiskan sebagian hidupnya di tempat yang jauh dari rumahnya. jakarta dan makassar dua kota yang menjadi tempatnya memulai menenun harapan dan cita-citanya, tentu dia juga memiliki kekurangan sama seperti diriku, mengenal kawan yang menurutku memiliki porsi sebagai pendengar yang standarnya jauh lebih baik dariku memberikan zona nyaman bagiku untuk bercerita dan beraksi spontan di setiap langkah kami di sudut- sudut kampus merah yang bernama Unhas. hahahahaha… tentu banyak sekali cerita yang tak sempat tertulis mulai dari hal terkonyol dan tentang mimpi dan cita-cita kita kawan, saya akan mencoba melawan lupa untuk kembali menulis cerita kita di edisi berikutnya.

lanjut cerita ini tentang belajar seperti yang kita bahas dalam obrolan di sms pada tanggal 27 oktober 2013, belajar yang tidak akan pernah ada akhirnya, belajar pada alam, pada kisah-kisah orang di sekitar kita, entah tentang karya, ide, realitas yang telah kita temui dalam langkah kaki kita. kawan ada sebuah cerita tentang karya dari anak bangsa yang ceritanya saya dapatkan dari Uswatun Hasanah si perempuan semesta sekitar pertengahan mei 2013 setelah balik dari kampung pare, kediri 21 mei, cerita dari atun yang di perdengarkan di kamarnya Nur Hudayah malam setelah bertemu dengan kawan fiersa dan memperlihatkan fotonya bersamanya. semangat sekali atun menceritakan tentang aksi petualangan seorang fiersa menjelajahi keindahan di indonesia. awalnya saya cuman tahu dia orang bandung, suka berpetualang dan bermusik dengan petikan gitarnya. dua bulan lalu saya pun mencari tahu lebih lanjut tentang kawan tersebut, mulai dari melihat dinding facebooknya lalu langsung mengirimkan permintaan pertemanan di dunia maya. hahahaha…

berawal dari sebuah postingannya untuk mengenang hari guru, “Mungkin sedikit yang tahu kalau hari ini, 5 Oktober adalah hari istimewa. Selamat hari guru sedunia untukmu para guru, dosen, pengajar non-formal, penggagas, motivator dan inspirator bagi orang-orang di sekitarmu. Selamat hari guru sedunia untuk para Pahlawan tanpa tanda jasa.” 

ketika membicarakan hakekat seorang guru maka spontan mata saya berbinar-binar dan terkadang mata saya spontan basah, ini adalah profesi bapak saya, bapak yang selalu saya banggakan di balik sikap kerasnya dalam mendidik kami, iya, saya anak seorang guru yang terangkat pertama kali di provinsi termuda, ke-27 Timor-Timur, bapak menghabiskan masa mudanya di sana, 20 tahun dia mengabdi sebagai tenaga pengajar dan tenaga pendidik di tanah timor, di sana pula dia di pertemukan dengan jodohnya  Ernestina Dedeus yang kemudian hijrah menjadi seorang muslim dan berganti nama menjadi Fitriani, perempuan itu adalah ibu kami, sosok perempuan yang karakternya sungguh keras karena didikan kakek yang selalu mengajarkan untuk belajar mandiri, ibu kami sudah kehilangan nenek kami sejak umurnya tiga tahun, ibu hanya dua bersaudara, saudaranya di titipkan pada saudara nenek kami karena umur tante kami masih tiga bulan pada saat itu. satu hal yang saya pelajari dari sifat kerasnya, naluri ibu yang melekat padanya sungguh luar biasa hingga akhirnya dia harus meninggalkan keluarga besarnya di tanah timor dan ikut bersama suaminya ke tanah mandar. 30 agustus 1999 sebuah keputusan mutlak yang tidak bisa di ganggu gugat menerima kenyataan bahwa tanah timor harus di tinggalkan dan memulai kembali kehidupan di tanah mandar. saya belajar lagi bahwa memang ada kuasa yang tidak bisa di tentang hanya karena sebuah zona nyaman. masa kecil yang indah dan sangat menikmati tentunya, melihat luasnya kebun kopinya kakek lalu memetiknya dan menjualnya di perusahaan Amerika serikat yang beroprasi di desa Gulolo, Ermera, Timor leste dan bisa membeli apa yang saya mau, mulai dari sepatu sekolah new era yang trend pada waktu itu, tas sekolah, uang jajan yang terjamin setiap harinya, buku bahasa indonesia dari gramedia di dili yang saya miliki hadiah dari tante, bermain bersama hujan deras di lapangan fatuquero tempat rumah kami berdiri berdekatan dengan sekolah dasar negeri 07 fatuquero, mengenang 14 tahun yang lalu, hahahahaha….

ini sebuah cerita tentang tanda tangan, sebelum lupa mulai menyerang lagi maka saya akan berkisah bahwa tanda tangan yang saya minta hanya tanda tangan bapak atau ibu pada raportku, tanda tangan senior waktu mos di Sma, tanda tangan senior waktu zaman ospek pada zaman maba dan buku tanda tangan saya adalah versi terlengkap tentunya…. hahahahha, semangat sekali saya mengumpulkan tanda tangan para senior saya di jurusan ilmu hubungan internasional fisip unhas. tanda tangan pembimbing akademik dan ketua jurusan, lalu tanda tangan ketika mengurus berkas untuk ujian meja, dan hal yang paling konyol meminta tanda tangan beberapa kawan di kampus pada buku diary yang senantiasa saya bawa dalam tas ketika meninggalkan kamar kost. mungkin bisa di bilang ini sebuah kegemaran mengumpulkan tanda tangan orang-orang yang menurutku menarik dan tentunya bisa bertemu dengan mereka walau kadang kami hanya saling menyapa lewat senyuman lalu berlalu begitu saja karena kesibukan masing-masing dan akhirnya ada waktu luang untuk berbincang tentang ide dan pandangan hidup mereka, tapi sayangnya saya tidak sempat menjaga dengan baik kumpulan tanda tangan tersebut, hahahahaha

saya belum pernah meminta tanda tangan para artis yang terkenal di negeri ini, karena memang saya enggan menonton konser yang berdesak-desakan, karena saya tahu mereka akan di liput oleh media jadi saya tinggal duduk manis di depan kotak hitam  yang bergambar dan bersuara di ruang tamu sambil menikmati pisang goreng racikan ibu dan segelas teh manis atau segelas kopi, kalaupun belum sempat menonton mareka dari layar kaca maka saya akan meminta beberapa kawan untuk menceritakan pengalaman mereka setiap menonton konser musik. jadi intinya saya belum meminta tanda tangan para artis karena saya tidak pernah mendatangi sebuah konser musik, ketika band efek rumah kaca manggung di lapangan fisip unhas 2010 saya hanya melihat dari koridor, ketika menghadiri kick andy  off air di baruga unhas saya pun tak sempat meminta tanda tangannya, dan menghadiri konsernya Debu di baruga unhas saya pun lupa meminta tanda tangan mereka.

turun dari motor saya pun berjalan sedikit tergesa-gesa karena melihat kumpulan orang di luar kbj yang sudah mulai ramai dan saya berfikir tidak akan bisa menyaksikan performa fiersa dengan posisi nyaman karena kerumunan orang yang notabene pria semua, mereka tinggi sedangkan saya kecil dan pendek, jadi tidak mungkin bisa menerobos mereka, hahahaha… saya pun meneriaki atun yang masih berada di atas motor untuk segera merapat takutnya kami tidak punya kesempatan untuk melihat fiersa. atun masih nyaman di atas motor sambil melirik layar hpnya, dan ternyata fiersa ada di depan saya, lalu ada seorang kawan yang tidak sempat saya tanyakan namanya berkata “itu fiersa, mau foto? saya pun spontan, bang bisa foto kan takutnya nanti cepat pulang jadi tidak bisa menyaksikan petikan gitarnya” nonton dulu baru foto, tawar-menawar yang singkat dan akhirnya sayapun bisa berpose dengannya, gaya andalanku “telapak tangan diatas dahi” gerakan hormat yang  menambah kepedeanku. hahahahaha….

setelah sesi foto bersama kawan fiersa yang segera saya minta setelah sampai di depan KBJ karena takut motor yang kami pinjam segera di minta untuk di kembalikan oleh Aisyah, pemilik motor yang sedang menunggu di travel e-sandira btp blok c no.4, akhirnya host memanggil nama fiersa untuk segera manggung, sms dari aisyah pun belum ada di inbox hpku artinya posisi masih aman untuk menyaksikan petikan gitarnya. 4 lagu yang saya dengar hanya kala yang menarik perhatianku karena hanya itu lagu yang saya tahu dan itupun dengarnya 6 bulan yang lalu, hahahaha…

alhamdulillah bisa menyaksikan performanya fiersa hingga akhir dan tiba-tiba terbersit untuk meminta tanda tangannya dan kata andalannya maka buku kecil atau buku saku yang kubeli di pare kampung inggris  4 maret 2013 yang lalu spontan kusodorkan padanya, sebuah tanda tangan dan kata andalan pun tertulis, setelah kulirik ternyata kata tersebut pertama kali kudengar dari seorang kawan yang kuliah di pajajaran bandung, kami pernah sekelas waktu ambil program bridge speaking di peace, pare, kediri tutornya mr. syihab dan pernah sekelas program grammar di Kresna. maaf kawan saya lupa namamu. saya berjanji akan mencari tahu namamu.

setelah mendapat tanda tangan dan kutipan kata andalannya maka sayapun foto bareng bersama atun, temannya atun dan tentunya fiersa di dalam ruang kbj yang penuh dengan deretan buku, sebenarnya bukan lagunya yang membuat saya kagum tapi cerita petualangannya dan tentang postingan memperingati hari guru. maaf bang…. hehehe dan saya pun sempat menawarkan jika ingin berpetualang ke luar negeri maka ke timor leste saja dan saya siap jadi guidenya.

saya sudah berniat 2014 mengunjungi keluarga ibu yang sudah 14 tahun lost contac dan akhirnya  oktober pun memberikan kabar gembira dan mengharukan bahwa keluarga ibu masih hidup dan awalnya dari sebuah group di facebook tentang kabupaten ermera timor leste yang di temukan oleh adeku Rum setelah satu tahun lalu mencari keberadaan keluarga ibu. terjawab sudah kerinduan kami. besar harapan saya untuk kembali berkunjung tanah timor bersama bapak, ibu dan adek-adeku. Amin ya Rabb.

sekali lagi ini masih tentang belajar yang saya obrolkan bersama Dian lewat sms, dan inilah salah satu lini proses belajar mengenal karya seorang fiersa tentang tulisan dan petualngannya di NKRI, dan saya berharap dia masih punya banyak waktu untuk bisa berpetualang ke tanah timor tanah yang pertama kali mendengar tangisan saya di dunia.  mengenai verba volant, scripta manent sebuah pepatah yunani yang artinya “yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.”

mari belajar menuliskan apa yang kau lihat, dengar, dan rasakan, hilangkan sebuah ketakutan akan tidak bagusnya cerita yang kau tulis, ini tentang sebuah lupa yang akan menyerang setiap dari kita, kalaupun ada yang sempat membaca dengan setia itu hanyalah sebuah bonus kawan.

*terima kasih aktor kbj, kak nita, kak bhoby, maha, suar, ka aswin dkk, untuk semangat berbaginya.

*terima kasih untuk tanda tangan dan kembali mengingatkan tentang pepatah yunani tersebut dan terima kasih sudah konfimasi pertemanan di facebook.

31.10.13

pukul 4 dini hari

btp blok c no.4, Makassar

🙂

tulisan ini di ketik sambil mendengarkan 2 lagu yang saya putar berulang-ulang “kala” & “hidup kan baik-baik saja”

#edisi semangat belajar menulis

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

sebelum lupa pada akhirnya menyerang maka mulailah belajar menuliskan ceritamu dari apa yang kau lihat, dengar, dan rasakan. semua dari kita ingin mengenang kembali apa yang telah di lewati lewat tulisan, andaikan ada orang lain yang juga ingin mengetahui yang kau tulis maka itu hanyalah bonus. buanglah ketakutan akan bagus tidaknya apa yang kau tuliskan. mulailah menulis naskah pertamamu dengan hati. coretlah coretan hidupmu sebelum zaman mencoretmu.

 

#edisibelajarmenulis

30.10.13

btp blok c no.4, Makassar

🙂